ARSITEKTUR HUJAN

ARSITEKTUR HUJAN

Aku bersalaman. Burung berita telah terbang memeluk sayapnya sendiri. Kota telah pergi jauh sampai ke senja. Aku bersalaman. Matahari yang bukan lagi pusat, waktu yang bukan lagi hitungan. Angin telah pergi, tidak lagi ucapkan kotamu, tak lagi ucapkan namamu. Aku bersalaman. Mengecup pesawat TV sendiri… tak ada lagi, berita manusia.
-1984

Arsitek Hujan terdiri dari empat “bagian”, yakni “Narasi dari Semangka dan Sepatu”, “Yang Berdiam dalam Mikropon”, “Mitos-Mitos Kecemasan”, dan “Membaca Kembali Dada”.

Inilah antologi puisi dari penyair paling fenomenal di Indonesia saat ini: Afriza Malna.

Close Menu