Jacques Lacan, Diskursus, dan Perubahan Sosial : Pengantar Kritik Budaya Psikoanalisis

Jacques Lacan adalah seorang psikoanalisis Prancis yang paling terkmuka. Dia mengembangkan psikoanalisis menggunakan berbagai gagasan dalam antropologi dan linguistik strukturalisme. Dapat dikatakan bahwa Lacan adalah Freud + Saussure, dengan sedikit sentuhan Levi-Strauss, serta sedikit bumbu Derrida dan Heidegger. Lacan mereinterpretasikan Freud dengan menggunakan teori strukturalisme dan poststrukturalisme. Dengan teori psikoanalisisnya, Lacan memberi banyak kontribusi bagi cultural studies dan kritik kebudayaan, misalnya seperti teori citra cermin, hasrat atau postulat “ketaksadaran itu terstruktur seperti bahasa.”

Salah satu kebutuhan paling mendesak terkait dengan cultural studies, adalah adanya terori subjektivitas yang bisa menjelaskan bagaimana artefak kebudayaan bisa memengaruhi manusia. Sebagian ilmuan sosial menunjukkan adanya potensi besar psikoanalisis yang belum direalisasikan, yakni bisa memberi teori subjektivitas semacam itu. Sementara memiliki potensi besar dalam penggunaan kritis kategori-kategori lacanian, psikoanalisis dipandang mampu membebaskan umat manusia dari hal-hal yang membuat mereka tidak bisa mencapai kepuasan dan kesejahteraannya. Dengan demikian psikoanalisis merupakan teori yang menjalankan praktik transformasi, dan sampai pada titik ini bisa disejajarkan dengan politik radikal.