JEJARING RADIKALISME ISLAM DI INDONESIA

Mencari mati syahid menjadi prinsip suci para pelaku bom bunuh diri. Mereka adalah penganut doktrin istisyhad yang memegang kuat keyakinan teologis dan historis yang mereka anggap sebagai jalan kebenaran. Keyakinan yang menampakkan wajah kekejaman, di mata mayoritas masyarakat yang hidup dalam kemajemukan peradaban dan agama. Namun sebaliknya, para penganut doktrin istisyhad ini merasa bahwa aksi yang mereka lakukan memiliki tujuan mulia bagi kemanusiaan dan menciptakan tata kehidupan dunia yang lebih damai dan sejahtera. Di sinilah garis batas keras mengenai cara pandang para penganut paham istisyhad terhadap kehidupan. Di satu sisi mereka mendambakan kedamaian dan kebenaran yang sejalan dengan doktrin mereka, tapi di sisi lain, mereka tak gentar mewujudkan pemahaman mereka itu sekalipun nyawa taruhannya.

Ideologi istisyhad bisa berkembang di mana saja. Dari kalangan rakyat kebanyakan, tidak berpendidikan, hingga tumbuh subur di kalangan kaum terdidik dengan ekonomi relatif mapan. Dari sini ditanamkan doktrin isy karieman au mut syahiidan (hiduplah mulia atau mati syahid saja) di kalangan aktivis muda melalui berbagai wahana. Tak heran, lahirlah kaum radikal yang memerangi kekuatan anti-Islam bangsa-bangsa Barat. Murka pun mencapai ubun-ubun karena mereka merasa tidak diberikan ruang untuk mengekspresikan konsep kebaikan dan kearifan mereka lantaran sistem toghutyzng terus “dipaksakan” oleh bangsa-bangsa Barat.