Kesastraan Melayu Tionghoa Dan Kebangsaan Indonesia Jilid 3 Drama Di Boven Digul

Berbeda dengan dua jilid sebelumnya, yang merupakan bunga rampai, jilid ketiga seri kesastraan Melayu Tionghoa dan kebangsaan Indonesia berisi karya tunggal. Karya tersebut, Drama di Boven Digul, dianggap sebagai novel Kwee Tek Hoay yang paling gemilang. Lebih dari itu, novel ini juga dinilai sebagai salah satu karya puncak Kesastraan Melayu Tionghoa.

Setting novel ini boleh jadi luar biasa, karena mengangkat peristiwa sejarah yang amat penting namun masih sumir, yakni Pemberontakan November 1926. Peristiwa itu tidak berani disentuh oleh para pengarang Balai Pustaka, dan hingga kini belum juga diungkap secara tuntas oleh para sejarahwan. Meski disebut oleh pengarangnya “melulu ada satu romans yang samasekali tidak mengandung sifat politik”, seluruh tokoh dalam novel ini hidup, bersinggungan, bahkan terlibat dalam kemelut politik itu.

Novel ini mulai ditulis pada 1927, ketika pemberontakan itu “masih anget”. Meski demikian soal politik yang demikian serius berhasil dikemas oleh Kwee dalam suatu kisah percintaan yang romantis, mengharukan, sekaligus menghibur. Tanpa terasa para pembaca akan dibawa kepada gagasan Kwee mengenai kemerdekaan dan persatuan Indonesia.

Buku ini patut dibaca dan dikoleksi tidak hanya oleh para peminat sastra, tapi juga mereka yang ingin lebih memahami liku-liku pergulatan sejarah bangsanya.