“Puisi Sapardi Djoko Damono sesungguhnya adalah puisi yang wajar, namun dalam khazanah perpuisian kita, ia menjadi puisi yang harus”
– Nirwan Dewanto.

“… kumpulan ini memperlihatkan keragaman agama dan kepercayaan, kristiani, muslim, maupun animisme. Kematian disambut dengan khidmat… dengan sikap hormat, kita menyisih, memberi jalan, dan berbicara pelan.”
Apsanti Djokosujatno (Guru Besar Ilmu Sastra Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia)

“Sebuah penelitian yang bersungguh-sungguuh boleh jadi dapat menyikapkan bahwa suasana “ngeri” memang sungguh menjadi mousike sebagian besar karya-karya Sapardi.”
– Bakdi Soemanto (Giri Besar Ilmu Sastra Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada)

“[Sapardi] terus saja meninjau, dan mempertimbangkan jalan kepenyairan yang telah ia tempuh. Terua saja gelisah, dan karena itu saya kira, maka ia terus menulis puisi.”
– Hasan Aspahani (Penyair, Wartawan)

“Dari kata sugestif ke acuan transparan… bagian pertama berbentuk naratif, tetapi bagian kedua berupa sonet, buku ketiga gabungan keduanya, membuat kita bertanya, bagaimana kumpulan sajaknya yang akan datang?
– Toeti Heraty Noerhadi (Guru Besar Filsafat Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia)