MENGGUGAT PENDIDIKAN : Fundamentalis, Konservatif, Liberal, dan Anarkis

Pendidikan sejak semula beriringan dengan kepercayaan. Kepercayaan terhadap sifat-sifat hakiki kemanusiaan sendiri, dan kepercayaan terhadap ada atau tidak adanya daya rohaniah yang lebih besar dibandingkan kekuatan manusia, yang memayungi jagat seisinya. Tiap kepercayaan bersifat lokal dan pewarisannya pada anak cucu merupakan intisari pendidikan. Para pendeta dan pujangga mesir kuno, Persia, Sumeria, Ibrani, dan sebagainya, menuliskan ajaran semacam ini sejak limaribu tahun sebelum masehi; kebenaran merupakan salah satu tujuan besar yang dicanangkan oleh nenek moyang tiap bangsa dan menjadi cita-cita filosofi seterusnya. Namun biasanya hanya sepersekian dari seluruh jumlah penduduk yang punya kesempatan belajar mencari kebenaran; andaipun pendidikan tak dijadikan kemewahan khas kaum ningrat dan golongan agamawan, rakyat jelata sudah kewalahan mempertahankan padunya jiwa dengan raga dari hari ke hari hingga tak sempat berbuat apa-apa lagi.