Merajut Harkat

Bagi mereka yang lahir dan dibesarkan di zaman Orde Baru, kata-kata “tokoh komunis”, “anggota Lekra” serta merta membangkitkan berbagai konotasi negatif, sama halnya dengan istilah-istilah “Gerombolan Pengacau Keamanan” atau “kelompok subversif”. Yang muncul bukan sosok-sosok manusia melainkan simbol kejahatan yang boleh dimusnahkan atau “dibasmi” seperti hama.

Bagaimana kalau Anda atau saya, suatu hari tiba-tiba mendapatkan diri diberi label semacam itu, lalu tanpa perlindungan hukum diculik, diseret bagai binatang ke tahanan, disiksa dan dipaksa mengakui hal-hal yang tidak pernah Anda lakukan atau pahami?

Di sana Anda atau saya tak tahu apa yang terjadi esok hari, akan dibunuh, disiksa lagi atau dibiarkan hidup dengan perut lapar, dengan rongrongan berbagai penyakit menular tanpa obat, tanpa perhatian, tanpa harga diri sebagai manusia. Novel Putu Oka Sukanta ini merupakan hasil perenungan dan pengendapan selama dua puluh tahun, dan tidak bisa dilepaskan dari pengalaman hidup sang penulis yang sempat menjadi tapol selama 10 tahun.