PADA BATAS SETIAP MASAKINI; Esai Sekitar Puisi Prosa

Cerita dimulai dengan pertanyaan: siapakah “masakini”?
Setelah dewasa, lelaki itu mulai meninggalkan desanya, pergi ke kota memulai kehidupan baru. Tetapi dia merasa tubuh desanya, tubuh-udiknya, terus hidup bersamanya, walau dia telah hidup sebagai orang kota. Apakah lelaki itu termasuk jenis manusia yang hidup sebagai seseorang-tanpa-masakini?

Kita bergembira bukan karena memotong padi; kita bergembira karena memotong pada yang kita tanam sendiri.” Kutipan ini, rasanya, cukup mewakili bagaimana sengitnya setiap persimpangan masakini yang harus kita lalui, antara memotong padi yang tidak kita tanam sendiri, dengan memakan nasi yang bahkan kita tidak tahu bagaimana wujud padi dan sawahnya.

Buku ini merupakan kumpulan esai di sekitar puisi dan prosa yang sebagian saya tulis antara sebelum dan setelah saya bergerak dalam Jaringan Rakyat Miskin Kota di Jakarta (Urban Poor Constium – UPC). Puisi dan prosa seperti gudang kenangan yang bisa disusun dari sudut mana pun, namun hampir selalu harus melalui lantai bawah untuk mendapatkan susunannya. Pembaca bisa mengambil sudut seluas kemampuannya untuk mengelilingi setiap sudut sebagai teks yang terbuka. Sama seperti kita mengenali masakini kita dengan cara berkeliling ke masalalu, seperti melepaskan cahaya yang telah mengisolasi sebuah lampu neon.