PERTEMUAN ANTARA TAREKAT DAN NU : Studi Hubungan Tarekat dan Nahdlatul Ulama Dalam Konteks Komunikasi Politik 1955-2004

Hubungan antara tarekat dan organisasi-organisasi Islam Indonesia umumnya dan NU khususnya sebenarnya telah terjalin sejak sebelum organisasi Islam itu lahir. Hal itu terjadi sebagai akibat dari masuknya tarekat yang berbarengan dengan Islam ke bumi nusantara. Artinya, antara organisasi-organisasi Islam yang ada di Indonesia seperti Muhammadiyah, NU Persis dan Iain-Iain dengan tarekat mempunyai jarak waktu yang sangat panjang. Dengan demikian bukan tidak mustahil para pendiri ormas itu mengenal Islam dari para pengikut tarekat ini. Maka sangat wajar juga kalau peranan tarekat selama kurun itu dalam pentas sosial politik nasional yang masih “digenggam” penjajah. Sebagairhana yang terjadi di Banten, Pekalongan dan lain sebagainya.

Secara spesifik, komunikasi politik yang terjalin antara tarekat dan NU kemudian menjelma menjadi hubungan yang baik. Paling tidak ada tiga faktor yang menjadi penyebabnya: pertama, bermula dari keluarnya NU dari Masyumi sekaligus menyatakan diri sebagai partai politik. Dengan sendirinya NU membutuhkan banyak dukungan untuk meraih cita-cita politiknya. Kedua, masyarakat NU adalah masyarakat fiqh, artinya segala tindakan NU dalam melihat realitas kehidupan mendasarkan diri pada hitam putihnya fiqh. Ketiga, tarekat dalam masa-masa itu menghadapi kritikan bahkan serangan yang sistematis dari kelompok modernis yang sangat anti terhadap aktivitas spiritual tarekat.