SENI, POLITIK, PEMBERONTAKAN

Buku ini memaparkan pemikiran-pemikiran tetang dunia seni di awal abad ke-20 hingga pascaperang dunia kedua. Albert Camus mengatakan, “Seni, seperti pemberontakan, adalah sebuah gerakan yang pada waktu bersamaan bersifat mengagungkan sekaligus mengingkari.” Sementara Leon Trotsky mengungkapkan bahwa banyak seniman yang menjalankan kreativitas seninya dalam rangka mencari kedudukan dan prestasi politis, atau sekadar menyelamatkan diri dari kemungkinan malapetaka politis, dengan membuat karya yang mengagungkan para penguasa. Hubungan seniman dengan masyarakat adalah ibarat orang tua dan anak. Masyarakat sebagai orang tua, membuat aturan-aturan yang mengekang kreasi seniman yang dianggap selalu melanggar tatanan yang sudah baku. Sebaliknya, seniman ibarat remaja yang bosan dengan tradisi kolot dan membayangkan sebuah tatanan baru yang lebih baik. Maka terjadilah proses dialektik yang hidup, antara masyarakat yang konservatif, dengan seniman yang inovatif. Diakhiri dengan tulisan dari Nicola Chiaromonte, menghadirkan drama tragedi perseteruan Albert Camus dan Jean-Paul Sartre.

Seni adalah kreativitas untuk mengekspresikan kehendak inovatif, untuk mengubah dunia lama menuju dunia baru melalui pengalaman estetis. Seni adalah Pemberontakan!