TRADISI AL-QUR’AN DI PESISIR : Jaringan Kiai dalam Transmisi Tradisi Al-Qur’an di Gerbang Islam Tanah Jawa

Clifford Geertz mencoba menjelaskan bahwa proses transmisi dan transformasi tradisi masyarakat tidak bisa lepas dari peran cultural broker. Seorang cultural broker berfungsi mutlak dalam menyaring dan menentukan bangunan tradisi dalam sebuah masyarakat. Otoritasnya, pada gilirannya terefleksikan melalui sosok kiai dalam konteks masyarakat Islam Jawa.

Hal ini menyisakan permasalahan bahwa alQur’an sebagai kitab suci bagaimanapun tidak dapat lolos dari refleksirefleksi tradisi. Pada tahap ini, proses transmisi dan transformasi alQur’an berada dalam pengaruh kiai dalam kapasitasnya sebagai cultural broker. AlQur’an yang hadir dan diperkenalkan dalam konteks ruang dan waktu abad ke tujuh memungkinkan untuk diterima sebagai sesuatu yang asing oleh masyarakat dalam ruang dan waktu yang berbeda. Ia terbawa melalui tahapan tahapan tradisi seiring masuknya Islam melalui proses interaksi multikultural yang panjang. Namun hal ini menyisakan permasalahan mendasar bahwa dalam transmisi dan transformasinya, tradisi al-Qur’an terefleksikan secara variatif dan terkadang bertentangan satu denganlainnya. Penelitian ini berupaya memahami rangkaian proses tersebut melalui dua rumusan masalahnya, yaitu bagaimana bentuk transmisi dan transformasi pengetahuan kiai tentang tradisi al-Qur’an di Gresik dan Lamongan? Serta bagaimana transmisi dan tradisi al-Qur’an dalam konteks kiai sebagai cultural broker?