WARTAWAN JADI PENDETA : Sebuah Otobiografi

Buku ini merupakan kisah tentang perjalanan hidup penulisnya sendiri, Putu Setia, mantan wartawan TEMPO yang kini jadi pendeta Hindu di Bali dengan gelar Ida Pandita Mpu Jaya Prema Anada.

Meskipun tentang kisah hidup satu orang, buku ini menarasikan banyak hal juga seperti politik, agama, dan jurnalisme. Misalnya kisah tragis pembantaian anggota dan simpatisan PKI, peliknya tata cara menjadi pendeta Hindu, serta kisah jatuh bangun membangun salah satu media terkemuka di negeri ini, TEMPO.

Namun, semua cerita tersebut dihubungkan oleh garis merah yang amat jelas sebagaimana judul buku ini, perjalanan Putu Setia menjadi pendeta.

Putu Setia tidak pernah menduga dirinya akan menjadi seorang pendeta. Dari keluarga miskin di Bali, Putu Setia melakoni kehidupan yang keras. Ia pernah menyaksikan kelamnya tragedi pasca G30S (pembantaian PKI) dan Peristiwa Buleleng (peng-Golkar-an Bali), berhenti sekolah karena persoalan biaya, merasakan sulitnya menjadi anak panggung, hingga akhirnya menemukan gairah dalam dunia jurnalistik yang ia tekuni selama lebih dari tiga dekade. Dunia yang mengasah idealisme dan memapankan kehidupannya.

Namun, bagi Putu Setia, hidup bukan hanya tentang materi, melainkan proes dalam mensyukuri segala hal yang telah semesta beri, bagaimanapun caranya. Menjadi pendeta dan mengabdikan dirinya pada umat merupakan cara yang dipilih oleh Putu Setia untuk mensyukuri kehidupan, selain membayar utang budi terhadap leluluhur. Nama Putu Setia pun berganti menjadi Ida Pandita Mpu Jaya Prema Anada dan akrab disapa “Mpu Jaya Prema”.

Buku ini menuturkan kisah Mpu Jaya Prema dalam menjalani transformasi spiritual untuk menjadi seorang pendeta. Tak hanya itu, Mpu Jaya Prema juga mengajak kita untuk menelusuri seluk beluk kehidupan sosial dan adat istiadat Bali, memahami makna yang terdapat dalam setiap tradisi. Dituturkan dengan rinci dan jernih, buku ini membuat kita seolah-olah hadir daam setiap pengalaman yang ia kisahkan.