Categories
Filsafat & Agama

ZABUR

Ke 150 syair dalam Kitab ini merupakan nyanyian rohani yang digubah abdi-abdi Allah pada zaman lampau berdasarkan ilham ilahi yang mereka terima. Kata Zabur berasal dari kata Arab zabara yang artinya “menulis/menulis dengan tekun”. Demikianlah para abdi Allah menuliskan ilham ilahi dalam bentuk syair nyanyian rohani sebagai kesaksian bagi segala zaman. Syair-syair Zabur mulai digunakan oleh bani Israil sejak abad ke-10 SM. Mereka menamainya “mizmar” yang artinya “nyanyian dengan permainan musik, khususnya kecapi.” Ketika orang Siria mulai mengenal “mizmaor”, mereka menyebutnya dengan dialek mereka sendiri, “mazmura”. Dari orang Siria, Mizmor diperkenalkan pula kepada orang Arab, dan mereka ini menyebutnya “mazmur”. Di Indonesia, yang sudah banyak menerima pengaruh Arab, Zabur dan Mazmur sama-sama digunakan untuk merujuk satu kitab yang sama – Kitab Zabur ini. Demikianlah syair-syair para abdi Allah tersiar luas, bukan di Timur Tengah atau di Asia saja, melainkan di dunia.

Nabi Daud, abdi Allah yang juga menjadi raja bani Israil, mengubah hampir separuh dari syair-syair Zabur (73 Syair). Ia disebut sebagai orang “orang yang pandai memetik kecapi” dan “penggubah Zabur yang disukai Israil.” Syair-syair selebihnya digubah oleh abdi-abdi Allah yang lain seperti Nabi Sulaiman, Nabi Musa, bani Korah, bani Asaf, Heman orang Ezrahi, dan Etan orang Ezrahi. Empat nama terakhir adalah abdi-abdi Allah dari keturunan Lewi (anak Nabi Yakub/Israil dan Cicit Nabi Ibrahim).