AL-QUR’AN DAN PEMBINAAN BUDAYA: Dialog dan Transformasi

Al-qur’an dan kebudayaan adalah dua hal yang kadang-kadang dipertanyakan, karena al-Qur’an berasal Tuhan dan mutlak benarnya, sedangkan kebudayaan sepenuhnya bersandar pada manusia, bersifat nisbi dan relatif. Pandangan ini muncul karena masih menguatnya pemikiran struktural dan dikotomis yang menempatkan Alquran di atas akal manusia. Padahal alquran sebagai kitab suci terakhir yang diproyeksikan untuk menjawab persoalan-persoalan umat manusia sepanjang manusia, memiliki watak yang terbuka untuk senantiasa berdialog dengan dinamika kehidupan umatnya.

Menempatkan Alquran sebagai benda sakral terlepas dari kancah perubahan budaya, berarti mengingkari hakikat Alquran itu sendiri. Oleh karena itu Alquran seharusnya diletakkan dan dipahami dalam hubungan yang dialogis dengan realitas kehidupan umat. Artinya manusia menggunakan akalnya untuk memahami Alquran dan merealisasikannya dalam aktivitas budaya. Dari sinilah hendaknya kita memahami tulisan-tulisan dalam buku ini.