DISKURSUS ALTERNATIF DALAM ILMU SOSIAL ASIA: Tanggapan Terhadap Eurosentrisme

Dominasi Barat (Eropa-Amerika) di hampir seluruh penjuru dunia tidak hanya dalam soal kecanggihan teknologi, tapi juga ilmu pengetahuan, salah satunya adalah ilmu sosial. Di Asia, ilmu sosial diperkenalkan oleh Barat, kemudian dikembangkan melalui lembaga-lembaga perguruan tinggi (universitas-universitas yang didirikan oleh Barat atau pemerintah lokal tapi mengajarkan ilmu-ilmu sosial) dengan mengacu pada hanya satu sumber pengetahuan Barat, sehingga membuat ilmu-ilmu sosial Asia banyak terpengaruh Barat (Eurosentrisme).

Syed Farid Alatas, Associate Profesor di Departemen Sosiologi National University of Singapore, dalam buku ini memaparkan cukup luas kondisi ilmu sosial Asia, menanggapi dan mengkritisi ilmu sosial Asia yang Eurosentris, serta mengupayakan pengembangan diskursus alternatif dalam ilmu sosial Asia. Tujuannya antara lain menjadikan Asia sebagai pusat studi ilmu sosial (Asiasentris) dan mengapresiasi realitas-realitas Asia dengan lebih baik lagi.

Dalam buku ini, Alatas mengidentifikasi delapan kondisi ilmu sosial Asia yang perlu dikritisi (h. 14-15). Pertama, ada bias Eurosentrisme. Kedua, ada pengabaian umum terhadap tradisi filsafat dan sastra lokal. Ketiga, kurangnya kreativitas atau ketidakmampuan para ilmuwan sosial di luar area budaya Euro-Amerika untuk melahirkan teori dan metode yang orisinal. Keempat, mimesis (peniruan) terlihat dalam pengadopsian atau peniruan yang tidak kritis terhadap model ilmu sosial Barat.

Dipublikasikan oleh Fajar Kurnianto
http://fajar-kurniantocoid/2011/05/m…
Dimuat di Harian Koran Jakarta, Senin 23 Mei 2011