Mencari Keadilan Bersama Yang Lain

Mencari Keadilan Bersama Yang Lain

Emmanuel Levinas, filsuf Yahudi itu, punya pengalaman pahit di abad ke-20. Enam kerabatnya—kedua orang tua dan dua saudaranya, serta kedua mertuanya—mati di tangan para serdadu. Mereka adalah korban sebuah gagasan politik yang berdarah-dingin terhadap ‘yang-lain’: Nazisme.

Di atas dasar pengalaman kelam itulah, Levinas membangun pemikiran filsafatnya. Ia menolak pemikiran gurunya, Martin Heidegger, dengan menyatakan bahwa bukan metafisika yang merupakan filsafat pertama (first philosophy), melainkan etika. Melalui trajektori etis ini, Levinas meletakkan dasar filsafatnya bukan pada soal bagaimana memahami struktur realitas, yang—baginya—mustahil terpahami secara lengkap, melainkan pada bagaimana memberikan tanggung jawab etis terhadap realitas di luar diri subjek, terhadap ‘yang-lain’ (the others).

Banyak literatur tentang Levinas, karenanya, selalu menonjolkan sisi etisnya. Sedikit lebih maju dari literatur kebanyakan itu, buku ini, selain memaparkan konsep keadilan etis Levinas, juga mendedahkan konsep keadilan politisnya. Sebuah upaya filosofis yang menarik refleksi etis Levinas dari ranah yang personal ke ranah yang komunal.

Close Menu