Menyeberangi Sungai Air Mata: Kisah Tapol ’65 dan Upaya Rekonsiliasi

Tujuh anak muda ingin tahu kejadian sebenarnya peristiwa 1965. Namun mereka tak bisa menjawab pertanyaan: untuk apa? Lalu sebuah matakuliah memberi mereka alasan. Mereka pun pergi menemui beberapa mantan tapol. Bersama para korban, mereka menyusuri kembali sejarah kelam bangsa ini. Kenyataan kekerasan, penderitaan, kejahatan dan dendam membuat mereka tersandung. Hati dan budi mereka tergugat: Apakah kebenaran, keadilan, pengampunan, harapan dan iman masih punya arti?

“Membaca tulisan ini serupa dengan menyaksikan bunga-bungai taman aneka warna, yang sanggup menerbangkan imaji kita pada seraut wajah yang rupawan, yaitu Tuhan. Kita disuguhi suatu kesadaran untuk memusatkan diri pada satu titik kepasrahan dan ketulusan terhadap yang Muara Agung, seperti tersirat dalam kata-katanya, dari para survivor aku belajar beriman, belajar berpasrah dan rendah hati di hadapan Allah, belajar berharap dan percaya pada-Nya meski aku berhadapan dengan penderitaan dan kejahatan.” (ABDUL MALIK, alumnus Jurusan Bahasa dan Sastra Arab UIN Sunan Kalijaga)