Mencari Titik Temu Agama-agama

“Belum pernah saya menemukan karya tentang studi perbandingan Agama-agama Timur dan Barat yang lebih mengesankan.”
– T.S. Eliot.
“Pandangannya yang tertuang dalam ulasannya mengenai tradisi agung, atau tradisi terbaik dan primordial, terasa sangat kuat bahkan dalam zaman modern ini. Dalam pandangannya juga tercakup ulasan mengenai tradisi yang secara orisinal memenuhi kebutuhan utama zaman sekarang, yakni supaya agama diulas dalam lingkup yang luas.”
– Huston Smith.

Aleppo Rusdi Mathari

“Besok sore kita akan tiba di Allepo, Dik. Menyeduh kopi dan meminumnya di teras hotel yang tembok lobinya bolong-bolong sebab ledakan mortir.”

Aleppo sekarang adalah wabah. Menularkan kemarahan dan kesumat. Melahirkan orang-orang yang setiap hari berpikir dengan membunuh dan kepada Tuhan mereka merasa berbakti.

Kita mungkin akan terasing dengan suasan seperti itu, tapi kita akan tiba di Aleppo besok sore dan minum kopi. Bukan karena kita pernah berbulan madu dan sarapan roti safiha, melainkan sebab kota itu tak pernah benar-benar takluk bahkan oleh kematian. Dan itu penting bagi kita, yang datang ke Aleppo dengan segenap rindu dan cinta.

Sains Pornografi dan Kontroversi Populer dalam Perjanjian Lama

Suatu ketika, seorang Rama menjadi pembicara dalam sebuah acara bersama anak-anak. Dia bercerita tentang Adam dan Hawa yang berteman dengan hewan-hewan. Tiba-tiba salah seorang dari mereka mengangkat tangan dan bertanya: “Rama, apakah dinosaurus juga ada bersama Adam dan Hawa?” Lalu Rama menjawab, “Ya, pada saat itu Allah sudah menciptakan juga segala jenis binatang liar, kiranya itu termasuk dinosaurus.” Rama berusaha menjelaskan berdasarkan cara pikir yang dapat dimengerti oleh anak ini.

Anak kecil dalam cerita di atas menunjukkan mentalitas yang khas di zaman kita. Dia menanggapi cerita tentang Adam dan Hawa dengan pengetahuan tentang dinosaurus yang dimilikinya. Dan ternyata hal yang sama terjadi juga pada kita. Kita membaca Alkitab, dan tidak jarang langsung bertanya-tanya tentang kisah yang diceritakannya. Kita mendapati hal-hal aneh yang tidak kita pahami.

 

Kami Tak Ingin Tumbuh Dewasa

Buku ini merupakan prosa dari kisah nyata. Sebuah fragmen penting bagi para tokoh yang terlibat yang tak akan pernah bisa mereka lupakan. Naluri perjudian diam-diam tetap merayap di lipatan diri mereka yang paling dalam.

Kami dipertemukan oleh satu hobi: bermain judi. Ia gabungan antara sifat konyol, jenius, naif, dan kekanak-kanakan. Salah satu slogan kami dulu: kami tidak ingin tumbuh dewasa.

OLENKA

Dalam Olenka, kita dibawa dalam alam absurd penuh obsesi dan ketidakberdayaan: sebuah petualangan pikiran lebih dari perjalanan jasmani. Seorang pria bernama Fanton Drummond, yang kita tahu adalah jelmaan pengarangnya sendiri, digambarkan begitu terobsesi dengan Olenka, seniman perempuan yang keberadaannya menyerupai hantu berkelibat. Dalam perjalanan spiritual ini muncul satu per satu tokoh dengan nama-nama yang terdengar normal sekaligus ganjil: Wayne Newton suami Olenka, tormented writer yang hanya bisa menghamburkan uang dan popularitasnya, M.B. dan M.C., Galpin Danzig, James Gilpur.

NARCISSUS dan GOLDMUND : Kecamuk Pertempuran Antara Daging dan Ruh

Dalam novel ini jelas adanya pengaruh teori Friedrich Nietzsce tentang semangat Apollonian versus Dionysian. Polarisasi karakter Apollonian yang individualis dari Narcissus berkebalikan dengan gairah dan watak yang tekun dari Goldmun. Hesse, dalam semangat The Birth of Tragedy dari Nietzsce, melengkapi persamaan dengan menciptakan Goldmund sebagai seniman dan pengembara (usaha keras Dionysian) yang diimbangi oleh Narcissus, seorang pendeta yang memiliki sifat terstruktur dan stabil (pendekatan Apollonian), dan menyoroti harmonisasi hubungan karakter utamanya.

Goldmund ditampilkan sebagai sosok yang terus berkembang dan mencari yang berusaha untuk mewujudkan unsur Apollonian dan Dionysian, sehingga menangkap gambaran tragedi ideal Nietzsce. Goldmund mewujudkan berbagai spektrumpengalaman manusia, bafsu akan kenikmatan dunia sensual yang mengerikan akan tetapi menangkap dan menampilkannya melalui bakatnya sebagai pemahat.

Seperti sebagian besar karya Hesse tema utama buku ini adalah perjuangan pengembara untuk menemukan dirinya sendiri, serta perpaduan kutub Jungian yang berlawanan (Mysterium Coniunctionis). Goldmund mewakili seni dan alam serta “pemikiran feminin”, sedangkan Nacissus mewakili ilmu pengetahuan dan logika serta Tuhan dan “pemikiran maskulin”. Kualitas “feminin” dan “maskulin” diambil dari struktur archetypal Jungian, dan merupakan kenang-kenangan dari karya Hesse sebelumnya, khususnya Demian. Di seluruh novel, Goldmund semakin menyadari kenangan akan ibunya sendiri, yang pada akhirnya mengakibatkan keinginannya untuk kembali kepada Urmutter (ibu primordial).

George And Lennie John Steinbeck

SEBUAH KISAHTENTANG PERSAHABATAN DAN TRAGEDI SEMASA KRISIS EKONOMI

Mereka bukanlah pasangan yang ideal. George bertubuh kecil dan gesit, sedangkan Lennie memiliki tubuh yang jauh lebih besar dan dungu. Mereka hidup layaknya sebuah keluarga, bersama-sama menghadapi kesepian dan keterasingan.

Buruh di ladang sayur yang berdebu di Kalifornia, mereka terbiasa menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat. George dan Lennie punya mimpi: memiliki sebidang tanah sehingga bisa hidup dengan damai. Ketika mereka mendapat pekerjaan di sebuah peternakan di Salinas Valley, mimpi mereka tampak begitu dekat. Tetapi George tidak dapat menjaga Lennie dari provokasi seorang wanita genit, ia tak mampu mengendalikan diri, baik emosi maupun kekuatan luar biasanya. Ketika suatu hari Lennie mendapat masalah besar lagi, tampaknya George tak akan dapat menyelamatkan sahabat sejatinya seperti sebelumnya.

ATHEIS – Achdiat K. Mihardja

Roman Atheis mengetengahkan perkembangan yang khas bagi masyarakat Indonesia sejak permulaan abad kedua puluh, yakni pergeseran gaya hidup tradisional ke gaya hidup modern. Pergeseran itu membawa serta perselisihan dan bentrokan antara paham-paham lama dan baru, terjadi khususnya di lapangan sosial budaya dan politik.

Perkembangan di dalam masyarakat tidak luput meninggalkan perngaruh pada pengalaman batin manusia. Keresahan batin di tengah-tengah bergeloranya pertentangan paham di zaman penjajahan Belanda dan Jepang menjadi pokok perhatian roman ini.