Pemanggil Hujan dan Pembaca Kematian

“Cerpen-cerpen Karisma Fahmi adalah ramuan menawan antara jagat dongeng dan realitas, antara yang terbayangkan dengan yang teramati. Kemampuan bertutur yang piawai menempatkan pembaca seolah di dunia ambang yang bersiap untuk dua kemungkinan, menerima dongeng atau melaknati kenyataan. Semesta fiksi Karisma Fahmi dihuni oleh kelindan rasa sakit. Paragraf demi paragraf dijahit oleh duka tokoh-tokohnya. Karisma seakan ingin mengatakan bahwa derita sangat dekat dengan hidup kita. Semacam sinyal waspada bagi hidup kita yang baik-baik saja.”
– Gunawan Tri Atmodjo.

Saya menyukai wayang berkat simbah. Kisah wayang berikut tokoh-tokohnya, selalu mampu menembus batas imajinasi, sebuah dunia kecil yang bergerak di luar dunia nyata manusia. Itulah yang saya anggap sebagai fiksi, sebuah dunia yang memiliki kaki, tangan, dan kepala untuk bergerak dan berdiri sendiri.

Seiring waktu, muncullah kesadaran akan pentingnya menemukan teks. Saya merasa harus membaca untuk menjawab segala hal terkait dengan kehidupan fiksi, untuk menjawab gugatan-gugatan terhadap teks yang muncul sebagai pertanyaan yang hanya akan dapat saya jawab sendiri sebagai kesimpulan, sebagai tafsir, sebagai katarsis. Melalui teks-teks yang sudah saya kenal di masa lalu itu, melalui orang-orang dekat yang telah berjasa menyampaikan cerita-ceritanya kepada saya, melalui kenangan-kenangan dan ingatan serta perasaan dan pemikiran saya pada saat itu, saya mulai menulis.

Selain wayang, ketika menulis, musik adalah bentuk lain dari teks. Sebuah ruang yang melingkupi saya; suara-suara yang mengatakan kepada saya bahwa ada tokoh lain, dunia lain, teks lain dalam sebuah lagu.
– Karisma Fahmi Y.