Tasawuf Gus Dur

“Membaca” pribadi seorang Gus Dur itu gampang-gampang sulit. Sulit sepintas, orang awam yang baru pertama kali bertemu dengan beliau, akan mengatakan perkataan beragam, ada yang mengatakan beliau itu mriyayi, nyantri, ngiayi, mribumi, bahkan ada juga yang mengatakan nylenehi. Seorang tukan becak yang bertemu beliau di pinggit jalan misalnya, menganggap beliau seorang kyai, dan si tukang becak pun minta berkah doa. Beda lagi ketika beliau pidato di depan masyarakat non-muslim, beliau dianggap sebagai “bapak bangsa” yang tidak membeda-bedakan suku, ras, dan agama. Lain lagi ketika beliau bertemu salafi atau Islam-eksklusif yang bersemboyan kembali kepada al-Qur’an dan Al-Sunnah, beliau dianggap sebagai orang liberal bahkan dianggap antek-anteknya Yahudi dan Amerika. Dengan kata lain “melihat dan membaca” seorang Gus Dur itu bisa mendapatkan kesimpulan yang relatif.