Di sebuah kota yang lekat dengan budaya, sejarah, dan keramahan, fenomena digital dengan suara kunyahan renyah dan porsi makanan raksasa tampaknya tak pernah mendapat sambutan lebih hangat. Mukbang, konten video makan dalam porsi besar yang berasal dari Korea Selatan, kini doyanmakan.id telah menemukan tempatnya di Yogyakarta—kota pelajar sekaligus surganya kuliner.
Fenomena mukbang di Jogja bukan hanya tentang melihat seseorang menghabiskan satu loyang pizza atau seporsi besar mi pedas dalam satu duduk. Lebih dari itu, ia menjadi jendela baru untuk mengeksplorasi keragaman rasa, tempat kuliner tersembunyi, hingga kekayaan tradisi yang dibalut dalam kemasan digital. Dan di sinilah, antara suara seruput dan ekspresi puas, budaya makan lokal bertemu dengan tren global.
1. Apa Itu Mukbang dan Mengapa Populer di Jogja?
Mukbang (먹방) berasal dari dua kata Korea: “meokneun” (makan) dan “bangsong” (siaran). Awalnya populer di Korea Selatan sebagai konten live streaming, mukbang kini berevolusi menjadi video-video YouTube dengan jutaan penonton di seluruh dunia.
Di Yogyakarta, fenomena ini berkembang seiring dengan:
- Meningkatnya konsumsi konten video pendek dan panjang di platform seperti YouTube, Instagram, dan TikTok.
- Tumbuhnya komunitas food vlogger lokal yang ingin mengeksplorasi kuliner Jogja dengan cara lebih ekspresif.
- Banyaknya tempat makan legendaris, viral, dan hidden gem yang cocok dijadikan konten.
2. Konten Mukbang Jogja: Perpaduan Lokal dan Modern
Keunikan mukbang di Jogja terletak pada pilihan menu dan gaya penyajian yang kaya warna budaya. Konten kreator mukbang di kota ini tak hanya menyajikan makanan dalam jumlah besar, tapi juga memperkenalkan kekayaan kuliner lokal dengan pendekatan visual yang menggoda.
Beberapa kategori yang populer:
a. Mukbang Gudeg dan Masakan Tradisional
Mengangkat menu seperti gudeg krecek, opor ayam, sambel goreng ati, hingga tempe bacem dalam porsi besar menjadi daya tarik tersendiri. Kreator biasanya merekam suasana warung legendaris seperti Gudeg Yu Djum atau Gudeg Pawon sambil mengulas tekstur dan rasa dengan gaya khas Jogja yang sopan namun berselera.
b. Mukbang Makanan Pedas Ekstrem
Fenomena mi pedas, seblak magma, atau ayam geprek level 10 tak luput dari konten mukbang. Jogja punya banyak tempat seperti Ayam Geprek Bu Rum, Ayam Geprek Mas Kobis, atau Sambel Layah yang jadi langganan konten makan pedas.
c. Mukbang All You Can Eat dan Street Food Viral
Jogja kini dipenuhi resto AYCE (all you can eat) mulai dari BBQ Korea, shabu, hingga angkringan modern. Kreator mukbang sering mengulas tempat-tempat seperti Hanamasa, Makan Yuk BBQ, atau angkringan hits di Tugu yang menyajikan lebih dari 30 jenis sate dan gorengan.
3. Siapa Saja Para Kreator Mukbang Jogja?
Beberapa nama lokal mulai dikenal di kancah nasional karena konten mukbangnya yang konsisten dan kreatif:
- @makanjogja – akun Instagram yang menyajikan porsi besar dan review jujur makanan kekinian Jogja.
- Jogja Foodie di YouTube – sering mengeksplorasi hidden gem kuliner desa dengan gaya mukbang storytelling.
- Si Kunyang Jogja – dikenal karena mukbang makanan pedas sambil ngelucu ala anak kos.
Kreator mukbang ini tak hanya makan, tetapi juga mengangkat citra kuliner Jogja lewat storytelling visual, ekspresi personal, dan pendekatan dekat dengan audiens.
4. Daya Tarik Visual dan Audio: ASMR dan Cinematic Angle
Kekuatan mukbang tidak hanya pada porsi besar, tetapi pada suara dan visual yang menggoda. Banyak video mukbang Jogja kini mengadopsi format ASMR (Autonomous Sensory Meridian Response)—suara mengunyah, menyeruput, atau memotong makanan yang direkam dengan mikrofon khusus.
Ditambah dengan pengambilan gambar:
- Close-up nasi gudeg diaduk sambil mengepul
- Lele goreng disiram sambal dengan slow motion
- Suara krispi gorengan saat digigit
Semua menciptakan pengalaman imersif bagi penonton, seolah-olah ikut menyantap makanan dari balik layar.
5. Tantangan dan Etika dalam Tren Mukbang
Meski viral, tren mukbang juga memiliki tantangan. Di antaranya:
a. Etika Pemborosan Makanan
Beberapa konten makan porsi besar dikritik karena berujung tidak habis. Kreator lokal di Jogja mulai mengedukasi bahwa makanan harus dihabiskan atau dibagikan ke kru setelah syuting.
b. Risiko Kesehatan
Makan dalam jumlah besar atau ekstrem (pedas/lemak) bisa berdampak pada kesehatan. Banyak konten kreator kini menyisipkan disclaimer dan menunjukkan bahwa mereka hanya melakukannya sesekali.
c. Keaslian Review
Sebagian penonton skeptis terhadap review berbayar. Untuk itu, kreator mukbang yang jujur dan transparan tetap lebih disukai karena dinilai autentik.
6. Dampak Ekonomi: Mukbang Sebagai Alat Promosi Kuliner Lokal
Tak dapat dimungkiri, mukbang kini menjadi alat pemasaran efektif bagi UMKM kuliner di Jogja. Dalam satu video viral, warung sederhana bisa diserbu pelanggan baru. Efeknya:
- Peningkatan omzet restoran lokal
- Citra kuliner Jogja yang makin luas menjangkau generasi digital
- Kolaborasi antara pelaku usaha dan konten kreator melalui endorsement atau ulasan organik
Pemerintah daerah bahkan mulai melihat potensi konten kreatif sebagai bagian dari promosi wisata kuliner, bukan hanya sekadar hiburan.
7. Masa Depan Mukbang di Jogja: Berakar Lokal, Menjangkau Global
Melihat antusiasme yang terus tumbuh, mukbang di Jogja diprediksi akan terus berkembang. Beberapa kemungkinan yang bisa muncul:
- Mukbang berbasis wisata kuliner desa, menyusuri jalur kuliner di sekitar Sleman, Bantul, hingga Gunung Kidul.
- Live mukbang dengan interaksi real-time, menggabungkan hiburan dan edukasi kuliner.
- Serial konten mukbang bertema budaya, misalnya mukbang sambil mengenakan pakaian tradisional atau menjelaskan filosofi makanan.
Dengan pendekatan yang konsisten dan inovatif, mukbang bisa menjadi medium diplomasi kuliner bagi Jogja di ranah digital.
Kesimpulan: Jogja, Mukbang, dan Cerita di Balik Setiap Suapan
Mukbang di Jogja bukan sekadar tren ikut-ikutan dari Korea. Ia telah menjadi platform naratif untuk mengeksplorasi cita rasa lokal, memperkenalkan tempat makan tersembunyi, dan membangun komunitas pecinta kuliner. Dalam dunia yang semakin visual dan serba cepat, mukbang menghadirkan ruang untuk menikmati makanan dengan pelan, penuh rasa, dan cerita.
Dan seperti Jogja itu sendiri, mukbang yang lahir dari kota ini bukan hanya tentang porsi besar—melainkan tentang keramahan, kejujuran rasa, dan kecintaan pada tradisi yang hidup dalam setiap gigitan.
