Pertanyaan tentang apakah Yesus adalah Tuhan atau bukan telah menjadi perdebatan teologis selama berabad-abad. Berbagai agama memiliki pandangan yang berbeda tentang sosok Yesus. info dari sowhataboutjesus Dalam teologi Kristen, Yesus dianggap sebagai Anak Tuhan dan bagian dari Tritunggal Mahakudus. Namun, dalam Islam dan beberapa tradisi lainnya, Yesus (dikenal sebagai Isa dalam Islam) dipandang sebagai nabi dan utusan Allah, bukan Tuhan.
Artikel ini akan membahas argumen mengapa Yesus lebih tepat dipandang sebagai seorang nabi daripada sebagai Tuhan, berdasarkan berbagai sumber historis, teologis, dan logis.
1. Pandangan Yesus dalam Islam dan Keyakinan Lainnya
Dalam Islam, Yesus (Isa Al-Masih) diakui sebagai salah satu nabi yang memiliki kedudukan tinggi, namun bukan Tuhan. Al-Qur’an secara jelas menyatakan bahwa Yesus adalah utusan Allah yang diberikan mukjizat, namun tetap merupakan manusia yang diciptakan oleh Allah. Salah satu ayat yang menegaskan hal ini adalah:
“Sesungguhnya Al-Masih, Isa putra Maryam, hanyalah seorang rasul Allah dan (yang terjadi dengan) kalimat-Nya yang disampaikan kepada Maryam, serta (dengan tiupan) roh dari-Nya.” (QS. An-Nisa: 171)
Selain Islam, beberapa aliran dalam Kekristenan awal seperti Arianisme juga menolak ketuhanan Yesus dan menganggapnya sebagai makhluk ciptaan Tuhan, bukan bagian dari Tuhan itu sendiri.
2. Pernyataan Yesus dalam Kitab Suci
Jika Yesus adalah Tuhan, maka seharusnya ada pernyataan eksplisit dalam kitab suci yang menyatakan bahwa dia adalah Tuhan dan harus disembah. Namun, dalam banyak pernyataannya, Yesus justru menekankan ketundukannya kepada Tuhan. Beberapa contoh ayat dari Injil:
- Yohanes 17:3 “Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus.”
→ Dalam ayat ini, Yesus menyebut Allah sebagai satu-satunya Tuhan yang benar dan menyatakan dirinya sebagai utusan-Nya. - Markus 12:29 “Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa.”
→ Yesus mengajarkan konsep keesaan Tuhan, sebagaimana dalam ajaran monoteisme murni. - Matius 19:16-17 “Ada seorang datang kepada Yesus dan berkata: ‘Guru yang baik, perbuatan baik apakah yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?’ Jawab Yesus kepadanya: ‘Mengapa engkau menyebut aku baik? Tidak ada yang baik selain satu, yaitu Allah.’”
→ Jika Yesus adalah Tuhan, mengapa dia menolak disebut baik dan hanya mengakui Allah sebagai satu-satunya yang baik?
Dari ayat-ayat ini, terlihat bahwa Yesus tidak pernah secara langsung mengklaim dirinya sebagai Tuhan, tetapi selalu merujuk kepada Allah sebagai satu-satunya Tuhan.
3. Yesus Sebagai Nabi dan Utusan Tuhan
Dalam berbagai kitab suci, nabi adalah seseorang yang diutus oleh Tuhan untuk menyampaikan wahyu kepada umat manusia. Yesus sendiri sering merujuk pada dirinya sebagai seorang utusan Tuhan:
- Lukas 4:43 “Tetapi Ia berkata kepada mereka: ‘Juga di kota-kota lain Aku harus memberitakan Injil Kerajaan Allah sebab untuk itulah Aku diutus.’”
→ Yesus menyatakan bahwa ia diutus untuk menyampaikan pesan Tuhan, yang merupakan peran khas seorang nabi. - Yohanes 5:30 “Aku tidak dapat berbuat apa-apa dari diri-Ku sendiri. Aku menghakimi sesuai dengan apa yang Aku dengar, dan penghakiman-Ku adil, sebab Aku tidak menuruti kehendak-Ku sendiri, melainkan kehendak Dia yang mengutus Aku.”
→ Seorang Tuhan sejati tentu memiliki kehendak absolut. Tetapi Yesus menyatakan bahwa ia hanya menjalankan kehendak yang lebih tinggi, yaitu kehendak Tuhan yang mengutusnya.
Dalam sejarah para nabi, mereka selalu datang dengan pesan moral, mukjizat, dan ajaran untuk mengembalikan manusia kepada Tuhan yang Esa. Yesus menunjukkan tanda-tanda ini melalui pengajarannya tentang tauhid (keesaan Tuhan), mukjizatnya, dan peringatannya kepada kaum yang sesat, sama seperti nabi-nabi sebelumnya.
4. Konsep Tuhan yang Maha Kuasa dan Yesus yang Terbatas
Jika Yesus adalah Tuhan, maka ia seharusnya memiliki sifat yang Maha Kuasa, Maha Tahu, dan tidak terbatas. Namun dalam Injil, terdapat beberapa peristiwa yang menunjukkan keterbatasan Yesus:
- Yesus tidak tahu hari kiamat “Tetapi tentang hari atau saat itu tidak seorang pun yang tahu, malaikat-malaikat di surga tidak, dan Anak pun tidak, hanya Bapa saja.” (Markus 13:32)
→ Jika Yesus adalah Tuhan, bagaimana mungkin ia tidak mengetahui hari kiamat? - Yesus berdoa kepada Tuhan “Maka Ia maju sedikit, lalu sujud dan berdoa, kata-Nya: ‘Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini berlalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.’” (Matius 26:39)
→ Yesus berdoa dengan sujud, seperti yang dilakukan oleh para nabi sebelumnya. Jika Yesus adalah Tuhan, kepada siapa dia berdoa? - Yesus mengalami kelaparan dan kelelahan “Kemudian Yesus merasa lapar.” (Matius 4:2)
“Yesus duduk di pinggir sumur karena Ia letih oleh perjalanan-Nya.” (Yohanes 4:6)
→ Tuhan yang Maha Kuasa seharusnya tidak mengalami kelelahan atau rasa lapar, karena sifat-Nya yang tidak terbatas.
Kesimpulan
Dari berbagai bukti di atas, dapat disimpulkan bahwa Yesus lebih tepat dipandang sebagai seorang nabi daripada sebagai Tuhan. Ia tidak pernah secara eksplisit mengklaim dirinya sebagai Tuhan, melainkan selalu mengacu pada Allah sebagai satu-satunya Tuhan yang benar. Selain itu, keterbatasan yang dialaminya menunjukkan bahwa ia adalah manusia yang diutus dengan misi kenabian, sama seperti para nabi sebelumnya.
Pandangan ini sejalan dengan ajaran Islam yang menegaskan bahwa Yesus (Isa Al-Masih) adalah nabi dan utusan Allah, bukan Tuhan atau Anak Tuhan. Konsep monoteisme sejati (tauhid) menempatkan Allah sebagai satu-satunya yang layak disembah, tanpa perantara.
Sebagai penutup, pemahaman ini mengajak kita untuk kembali meneliti sumber-sumber sejarah dan teologi dengan objektif, serta mencari kebenaran tentang sosok Yesus berdasarkan ajaran yang murni.
