KITAB KUNING, PESANTREN DAN TAREKAT

Kitab kuning dikenal sebagai salah satu cirri utama dunia pesantren, khazanah intelektual klasik yang ditulis sejak abad pertengahan dan dipelajari hingga kini. Seseorang disebut ‘kiai’ atau tamat dari belajar di pesantren jika, di antaranya, telah dianggap menguasai sejumlah literatur kitab kuning ini, mulai fikih, tauhid, hingga tasawuf. Itulah sebabnya orang harus menghabiskan masa bertahun-tahun dari satu pesantren ke pesantren lain untuk mempelajari.

Apa yang dianggap sebagai ‘subkultur’ pesantren diyakini turun dari ajaran-ajaran yang termaktub dalam kitab kuning, yang bertemu dengan tradisi-tradisi lokal. Sebagai contoh, sebutan ‘Gus’ sebagai penghormatan terhadap anak kiai adalah ajaran etika yang termaktub dalam suatu kitab kecil yang bertemu dengan tradisi lokal ‘Jawa’ untuk menghormati anak seorang guru/petinggi.

Melalui buku ini, Martin van Bruinessen mengungkapkan kitab-kitab kuning apa saja yang diajarkan di pesantren-pesantren di Nusantara, bagaimana dia diajarkan, bagaimana penafsirannya, apa materinya, dan sebagainya. Di lain pihak, Martin menghubungkan kitab kuning ini dengan dunia pesantren itu sendiri dan dunia tarekat.

Buku Kitab Kuning, Pesantren dan Tarekat ini adalah revisi dari buku yang terbit pertama sekitar 20 tahun lalu dan telah mengalami cetak ulang berkali-kali. Dalam edisi ini, Martin menambahkan sejumlah data dan telaah terbaru. Buku yang telah menjadi klasik di bidangnya ini merupakan buah minat dan ketekunan Martin selama hampir 20 tahun sebagai pengajar dan peneliti sosial, khususnya dunia pesantren, di Indonesia.yang membicarakan hubungan antara kitab kuning, pesantren dan tarekat di Indonesia