“Hanya kaum yang berbudi luhur mampu memiliki kebebasan. Ketika bangsa-bangsa berubah menjadi korup dan bengis,
mereka semakin membutuhkan para penguasa.” (Benjamin Franklin)

Dulu, korupsi cuma dilakukan elite penguasa dengan cara “menginjak kaki” para pengusaha-konglomerat. Kini, perilaku koruptif sudah meluber ke manamana, termasuk ke berbagai kubu partai politik. Koruptor masa kini lebih tak punya hati nurani, karena yang paling banyak dirampok adalah dana APBN, uang rakyat yang mestinya dipakai untuk mengakhiri kemiskinan ekstrem yang sudah lama membelit sebagian anak bangsa.

Bertolak belakang dengan mimpi reformasi, korupsi di Indonesia kini justru kian marak-meruyak. Teori “potong satu generasi” untuk memutus hubungan dengan para koruptor era Orde Baru dan mengawali lagi kehidupan bernegara di bawah para pemimpin muda yang bersih, gugur sudah. Tak dinyana, kita kini dipaksa berhadapan dengan orang-orang macam Gayus Tambunan dan Nazaruddin.

Sebuah buku yang menegaskan kembali bahwa korupsi dan kemiskinan sejatinya adalah dua sisi dari sekeping uang yang sama. Keduanya adalah musuh paling jahat yang harus kita perangi bersama.