Monolog Politik

Lima monolog yang ditulis Putu Fajar Arcana hadir dengan cara yang tidak biasa dalam mencermati realitas. Monolog tidak begitu populer sebagai metode pengungkapan berbagai fenomena yang terjadi di sekitar kita. Tetapi karya-karya ini membuktikan betapa tuturan dan pemeranan seorang tokoh, bisa menjadi jangkar untuk pelan-pelan memasuki hutan raya dunia politik, yang centang-perenang. Buku ini memberi bukti bahwa dunia politik yang keras dan banal, juga bisa didekati dengan cara halus, tetapi menukik sampai ke inti persoalan: moralitas manusia!
—-
“Monolog ini bila dimainkan di saat ditabukannya usaha menyentuh pejabat, akan bisa membuat penonton histeris. Tetapi kini keadaan sudah berbeda. Toh keberanian itu tetap memiliki daya pikat, bila aktor dan sutradaranya lihai memberi sudut pandang baru. Karena kalimat-kalimat Can, menyimpan pesan dan daya pukau. Lakon politik bukan hanya dulu, kini pun tetap akan jadi suguhan menarik. Karena tetap saja, bahkan kian “menyebalkan”, masih saja ada orang yang sudah ketahuan belangnya, berani mencoba meyakinkan kita, bahwa dia bersih. “Saudara-saudara siapa pun itu, tolong selamatkan saya. Tidakkah hati Saudara-saudara terketuk mendengar permohonan saya. Saya benar-benar ingin bertobat, kembali ke jalan semula.” Can penyair yang wartawan, sudah menjepret dengan kepenyairannya, sebuah kebohongan politik.”
– Putu Wijaya, sutradara teater dan sastrawan