Seribu Bangau Yasunari Kawabata

Yasunari Kawabata (1899-1972), pengarang Jepang, yang meraih penghargaan Nobel tahun 1968, bisa dikatakan sebagai salah seorang pengarang dengan novel- novelnya yang bernilai klasik. Hal itu ditunjukkan bahwa hingga sekarang, karya-karyanya masih saja dibaca secara luas, baik di Jepang maupun di luar Jepang. Karir Kawabata terentang sejak tahun 1920an, diselai Perang Dunia II, hingga tahun 196oan. Karya-karyanya terkenal liris, halus, dan sarkartis, menyentuh ruang-ruang dan celah-celah kehidupan antarmanusia yang tidak mungkin dipikirkan dan dibicarakan, tapi nyata adanya.

Seribu Bangau berpusat pada upacara minum teh dan cinta tanpa harapan. Tokoh utamanya terpikat pada mantan nyonya ayahnya yang telah meninggal. Setelah kematian sang nyonya, ia kemudian tertarik pada putrinya, yang kemudian juga lari darinya. Upacara minum teh memberikan latar belakang yang memukau untuk tetek bengek permasalahan manusia, tapi maksud Kawabata sebenarnya -menurut para pengamat adalah untuk menjelajah bagaimana subtilnya perasaan tentang kematian dan kehilangan. Peralatan upacara minum teh bisa abadi, tetapi orang-orang di sekitarnya lemah dan segera pergi. Ada nada incest, cinta mustahil dan kematian. Sang ayah, yang muncul dalam kenangan seorang anak sebagai seorang lelaki tua, yang mengecewakan anak- anaknya dan telah kehilangan seluruh hasrat pada istrinya. Cinta terlarang, bayangan perselingkuhan, dan harapan yang kosong mengisi hari-hari penuh kenangan.