Tawa Gadis Padang Sampah – Ahmad Tohari

Tawa Gadis Padang Sampah – Ahmad Tohari

Gaya realisme yang masih sangat setia dianut oleh Ahmad Tohari menjadi langka. Gaya ini juga dipakai oleh Hamsad Rangkuti kelahiran 1943 (73 Tahun), yang saat ini sudah tak bisa menulis karena faktor kesehatan fisiknya. Selain gaya penulisan realis yang semakin tersisih, obyek yang ditulis Ahmad Tohari juga semakin tergusur.

………Terjadilah sebuah ironi. Ketika rakyat miskin Indonesia bahkan tuna wisma menyantap mi instan dengan sangat nikmat, sebenarnya mereka tengah membayar upeti kepada para petani gandung di AS. Sebab sebagian besar gandum kita diimpor dari AS. Nasi tergeser, umbi-umbian tergusur. Di DKI Jakarta memang masih bisa dijumpai penjual pisang rebus dan umbi-umbian, dengan minuman yang bersantan yang disebut bajigur. Tapi mereka justru makin tersisih.

Kalau pun ada peminatnya, bukan masyarakat di kawasan kumuh lagi. Kereta api dalam cerita pendrk ini, tampaknya hanya sekedar “dipinjam” oleh Ahmad Tohari, agar ia bisa bercerita tentang kelompok masyarakat, yang sebentar lagi sudah tak akan pernah kita jumpai di tepi rel kereta api. Mereka akan tersingkir entah ke mana, sama dengan umbi-umbi yang juga tersisih, sama dengan penulisnya realis yang akan makin sedikit penulisnya. Baca segera dalam buku ini!

Close Menu