Laporan praktikum Produksi Lahan manajemen pastura

produksi lahan tanaman

Laporan praktikum Produksi Lahan manajemen pastura

 TINJAUAN PUSTAKA

 Ketersediaan hijauan makanan ternak dalam meningkatkan produksi ternak ruminansia merupakan bagian yang terpenting karena lebih dari 70 % dari ransum ternak terdiri dari pakan hijauan untuk itu diperlukan upaya penyediaan hijauan makanan ternak yang berkualitas dan berkesinambungan (Susetyo, 1998). Pertambahan populasi ternak ruminansia menyebabkan peningkatan kebutuhan pakan hijauan. Sumber pakan hijauan umumnya dari padang rumput atau padang penggembalaan yang luasnya semakin lama semakin berkurang karena secara bertahap telah terjadi perubahan fungsi dari padang rumput menjadi pemukiman penduduk, kawasan industri dan perkebunan. Perubahan fungsi tersebut dapat menyebabkan areal yang digunakan untuk penamanan hijauan makanan ternak terbatas yang mengakibatkan produksi ternak menurun (Farizaldi, 2011). Kekurangan pakan hijauan tersebut dapat diatasi salah satunya dengan memamfaatkan hijauan makanan ternak yang tumbuh diareal tanaman perkebunan seperti kelapa, karet, kelapa sawit dan tanaman lainnnya. Khusus tanaman kelapa sawit luas arealnya semakin bertambah, sejalan dengan program pembangunan, di Propoinsi Jambi luas tanaman kelapa sawit sekitar 472.888 ha (Prawiradiputra, 2003).

Hijauan makanan ternak terdiri atas hijauan pakan yang berupa rumput lapangan, limbah hasil pertanian, rumput jenis unggul, juga berupa jenis Leguminosa (Mathius et al., 1997). Menurut Lubis (1992), hijauan makanan ternak adalah pakan dalam bentuk daun-daunan dan kadang-kadang masih bercampur batang, ranting serta bunga umumnya berasal dari tanaman sebangsa rumput (Gramineae) dan kacang-kacangan (Leguminose). Produksi hijauan dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti iklim, misalnya sifat fisik tanah, spesies tanaman yaitu kemampuan beradaptasi dengan lingkungan dan manajemen perlakuan manusia.

Pengukuran produksi lahan pastura dapat dilakukan dengan cara pengambilan sampel dilakukan secara acak melalui peta yang kemudian setiap spot terpilih dibuat protected square meter yang berukuran 1×1 m. Pengukuran jumlah produksi dilakukan dengan penimbangan dan pengukuran kualitas dilakukan dengan analisis proksimat. Pemotongan dilakukan 50 sampai 100 cm diatas permukaan tanah (Sumarsono, 2007).

Rumput raja (Pennisetum hybrid) merupakan rumput yang berasal dari Afrika tropik yang kemudian menyebar ke daerah-daerah tropikal di dunia dan tumbuh alami di seluruh Asia Tenggara yang bercurah hujan melebihi 1000 mm (Sujitman, 1996). Berdasarkan penelitian diketahui komposisi rumput gajah adalah BK 12 sampai 18%, SK 26 sampai 40,5%, Beta-N 30,4 sampai 49,6 %, LK 1 sampai 3,6 % dan TDN 40 sampai 67% (Sutisna, 1998).

 

MATERI DAN METODE

Materi

  • Alat. Alat-alat yang digunakan pada praktikum pengukuran produksi lahan adalah sabit, rafia, meteran, timbangan, koran, staples, dan seperangkat analisis BK.
  • Bahan. Bahan yang digunakan pada praktikum pengukuran produksi lahan adalah rumput Raja.

 Metode

Pengukuran produksi lahan dilakukan dengan cara dibuat ubinan dengan rafia yang berukuran 1m x 1m kemudian hijauan dipotong menggunakan sabit. Hasil pengukuran produksi lahan kemudian ditimbang dan dicacah yang kemudian dimasukkan dalm kantong koran dan dimasukkan ke dalam oven pada suhu 55oC lalu ditimbang. Untuk mengukur BK selanjutnya dilakukan analisis BK. Setelah diketahui BK-nya kemudian dilakukan perhitungan kemampuan lahan.

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pengambilan sampel produksi lahan dilakukan di lahan koleksi laboratorium Nutrisi dan Makanan Ternak pada hari Minggu, 17 November 2013 pukul 08.00. Sampel yang digunakan adalah rumput gajah atau Pennisetum hybrid yang dipotong dengan cara membuat ubinan sebesar 1×1 m dan dipotong sekitar 3 sampai 5 ruas diatas permuakaan tanah. Hasil pemotongan sampel adalah sebagai berikut:

Tabel 1. Hasil pengambilan sampel setelah defoliasi

Nama sampel Rumput raja
Timbangan
Berat setelah pemotongan dari lahan 4 kg
Berat koran 19 gram
Berat sebelum dioven 55 oC 319 gr
Berat setelah dioven 55 oC 71 gr

Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui bahwa produksi hijauan segar rumput raja sebesar 4 kg/m2 atau sebanyak 40 ton/ha. Sampel rumput raja ditimbang sebanyak 319 gr untuk kemudian di oven dan dianalisis proksimat. Menurut Sumarsono (2007), rumput raja merupakan persilangan antara P. Purpureum dan P. Typhoides. Produksi segar rumput raja sebesar 1076 ton/ha/tahun dan produksi bahan kering rumput raja sebesar 110 ton/ha/tahun, sedangkan menurut Siregar (1991), di Indonesia produksi rumput gajah dan rumput raja berkisar antara 40 – 63 ton ha/tahun. Rumput raja mempunyai sifat toleransi terhadap jenis tanah yang cukup luas, tumbuh baik pada tanah yang tidak terlalu lembab dan didukung dengan drainase yang baik. Rumput raja tidak tahan terhadap naungan dan genangan air. Produksi hijauan yang dihasilkan sudah sesuai dengan literatur.

Farizaldi (2011) menyatakan produktivitas suatu padang rumput merupakan fungsi faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman pada padang rumput tersebut. Faktor-faktor tersebut adalah iklim, faktor tanah, spesies yang terdapat dalam padang rumput dan tatalaksana pada padang rumput. Produksi hijauan dipadang penggembalaan dipengaruhi oleh faktor kesuburan tanah dan pengolahan tanah. Faktor-faktor yang mempengaruhi botani padang adalah curah hujan, tinggi tempat dan jenis ternak yang digembalakan dipengaruhi juga oleh keadaan tanah padang penggembalaan alam di daerah tropik mengandung sedikit N yang dapat dimanfaatkan (Reksohadiprodjo, 1994),

Penggilingan sampel dilakukan di pada hari rabu, 20 November 2013 di laboratorium Nutrisi dan Makanan Ternak. Hasil dari penggilingan sampel rumput raja adalah sebagai berikut:

Tabel 2. Hasil penggilingan sampel rumput raja

Nama sampel Rumput raja
Alat giling Hammer mill
Berat setelah digiling 71 gr

Proses selanjutnya untuk mendapatkan bahan kering dari rumput raja yaitu penggilingan. Penggilingan sampel dilakukan dengan menggunakan alat yang bernama grinder. Menurut Agus (2007), grinding adalah proses penggilingan bahan baku yang bertujuan untuk mengurangi ukuran partikel sehingga membuat ukuran partikel lebih kecil. Grinding dilakukan dengan hammer mill dengan ukuran screen yang berbeda, untuk menentukan besar kecilnya ukuran partikel pakan hasil penggilingan. Berat sampel setelah digiling sebesar 71 gr.

Analisis bahan kering dilakukan pada tanggal 25 November di laboratorium Nutrisi Makanan Ternak bagian Teknologi Makanan Ternak. Hasil analisis bahan kering yang telah dilakukan adalah sebagai berikut:

Tabel 3. Hasil analisis bahan Kering

Parameter I II
Berat silika disk 12,7399 13,7895
Berat sampel 1,0074 1,0058
Silika disk+sampel sebelum dioven 105 oC
Silika disk+sampel setelah dioven 105 oC 13,7473 14,7953
KA1
DW
KA2
DM2
KA total
DM
DM rata-rata

Data hasil pengamatan diatas didapatkan dengan cara analisis proksimat dengan dua kali pengulangan. Analisis proksimat yang dilakukan hanya sebatas untuk mengetahui kandungan air dan kandungan bahan kering rumput raja. Kandungan air total rumput raja pada sampel 1 sebesar 85,44% dan sampel 2 sebesar 85,37%. Nilai dari dry mater sampel 1 rumput raja sebesar 14,56% dan sampel 2 sebesar 14,63%, sehingga kandungan bahan kering rata-rata sampel rumput raja sebesar 14,59%.

Berdasarkan data perhitungan diatas dapat digunakan sebagai bahan perhitungan carryng capacity lahan jika diketahui luas lahan 5000 m2. Hasil analisis kandungan N rumput raja 1,36% sehingga PK rumput raja sebesar 8,5%. Hasil analisis in vitro PK(DP) sebesar 60,4% sehingga kadar DP sebesar 5,134%. Nilai TDN rumput  raja sebesar 52% sehingga produksi hijauan DM/m2 sebesar 1,19%. Kandungan nutrisi dalam produksi hijauan DP-nya sebesar 0,061 kg/m2 dan RDN-nya sebesar 0,6188 kg/m2. Total produksi yang diberikan pada ternak sebesar 75% sehingga DP dan TDN yang masuk adalah DP sebesar 0,457 kg/m2 dan TDN sebesar 0,4641 kg/m2. Kebutuhan Unit Ternak (UT) perhari adalah DP sebesar 18,59 m2 dan untuk TDN sebesar 10,98 m2. Jumlah petak sebanyak 40, sehingga luas petak untuk mempunyai kandungan DP sebesar 743,6 m2 dan untuk TDN sebesar 439,2 m2. Nilai carryng capacity untuk DP sebesar 6,72 dan untuk TDN sebesar 11,38. Lahan tersebut mampu menampung ternak sebesar 8 ekor untuk DP dan 13 ekor untuk TDN jika sampi yang ditampung seberat 300 kg/ekor.

Menurut Soetrisno (2002), kemampuan ternak dalam  mengkonsumsi HMT dalam keadaan segar diperkirakan hanya sekitar 10% dari berat badan atau 3% dari berat badan apabila hijauan yang diberikan dalam bentuk kering (tanpa kandungan air). Jumlah hijauan yang dapat diberikan pada ternak tergantung pada beberapa faktor, yaitu harga hijauan dan jenis ternak. Ternak perah, hijauan dalam keadaan kering udara pemberiannya tidak boleh kurang dari 1% (agar kandungan lemak susu normal), tetapi tidak boleh lebih dari 2% dari berat ternak. Ternak ruminansia kecil pemberian hijauan dapat mencapai 2 sampai 3% berat badan. Pemberian pakan pada ternak juga harus memperhatikan waktu pemanenan hal tersebut terkait dengan kualitas hijauan yang dikandung dalam bahan kering.

 

 

KESIMPULAN

Berdasarkan pengamatan praktikum hasil produksi segar rumput raja sebesar 8,2 kg/m2. Hasil analisis proksimat terhadap kadar air dan bahan kering rumput gajah sebesar 85,44% dan 85,37% dengan DM rata-rata sebesar 14,59%. Carryng capacity rumput raja dengan luas lahan sebesar 5000 m2 dapat menampung ternak dengan berat 300 kg/ekor sebanyak 8 ekor berdasarkan DP dan 13 ekor berdasarkan TDN. Faktor yang mempengaruhi produksi lahan antara lain bibit tanaman, pemeliharaan dan waktu pemanenan.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Agus, A. 2007. Membuat Bahan Pakan Ternak Secara Mandiri. Citra Aji Parama. Yogyakarta.

Farizaldi. 2011. Produktivitas Hijauan Makanan Ternak Pada Lahan Perkebunan Kelapa Sawit berbagai Kelompok Umur di PTPN 6 Kabupaten Batanghari Propinsi Jambi. Fakultas Peternakan Universitas Jambi. Vol. XIV. No.2

Lubis, D. A. 1992. Ilmu Makanan Ternak. PT. Pembangunan. Jakarta

Mathius, I.W., D. Lubis., E. Wina., D.P. Nurhayati, dan I.G.M. Budiarsana. 1997. Penambahan Kalsium Karbonat Dalam Konsentrat Untuk Domba Yang Mendapat Silase Rumput Raja Sebagai Pakan Dasar. Vol 2, No3.

Prawiradiputra, Bambang R. 2003. Sistem produksi hijauan pakan di lahan kering DAS Jratunseluna. Balai Penelitian Ternak Bogor. JITV Vol. 8 No.3 Th. 2003

Reksohadiprodjo, S.1994. Produksi Tanaman Hijauan Makanan Ternak Tropik. BPFE. Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta

Siregar, M. E. 1991. Kebutuhan pupuk untuk pengembangan tanaman pakan ternak. Prosiding Nasional Efisiensi Penggunaan pupuk V. Puslitanak Bogor.

Sujitman, 1996. Pengaruh Dosis Pemupukan Nitrogen dan Bentuk Bibit Terhadap Produksi dan Kandungan Protein Kasar Rumput Raja, Jurnal Peternakan dan Lingkungan

Sumarsono. 2007. Ilmu Tanaman Makanan Ternak. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Sutisna, U., T. Kalima dan Purnadjaja. 1998. N. Wulijarni-Soejipto dan
Soekotjo (Peny.). Pedoman pengenalan pohon hutan di indonesia.yayasan prosea. bogor dan pusat diktat pegawai dan sdmkehutanan. Bogor.

Susetyo, S, 1998. Pengelolaan dan Potensi Hijauan Makanan Terak untuk Produksi Ternak Daging. Fakultas Peternakan. Institut Pertanian Bogor.

10 Contoh Hijauan Pakan Ternak yang Populer (Rumput dan Legum)

 

 

 

LAMPIRAN

Diketahui :

  1. Berat silica disk = 12,7399 g

Berat sampel    = 1,0074 g

Silica disk + sampel setelah oven 105ºC = 13,7473 g

  1. Berat silica disk = 13,7895 g

Berat sampel    = 1,0058 g

Silica disk + sampel setelah oven 105ºC = 14,7953 g

Kadar air I = (brt sampel segar+koran) – brt stlh oven 105ºC+koran x100%

Berat sebelum oven

= 319 – 71 x 100%

319

= 77,74%

DW     = 100% – KA 1

= 100% – 77,74%

= 22,26%

Data I

KA2      = (sampel+silica sblm oven)-(sampel+silica stlh oven) x 100%

Berat sampel

= 13,7473 – 13,6555 x 100%

1,0074

= 9,1%

DM2      = 100% – KA 2

= 100% – 9,1%

= 90,9%

KA total          = KA1 + (KA2 x DM)

= 77,74% + (9,1% x 0,2226)

= 79,77%

DM      = 100% – KA total

= 100% – 79,77%

= 20,23%

 

Data II

KA2 II   = (sampel+silica sblm oven)-(sampel+silica stlh oven) x 100%

Berat sampel

= 14,7953 – 14,7083 x 100%

1,0058

= 8,65%

 

 

DM2      = 100% – KA 2

= 100% – 8,65%

= 91,35%

KA total          = KA1 + (KA2 x DW)

= 77,74% + (8,65% x 0,2226)

= 79,67%

DM      = 100% – KA total

= 100% – 79,67%

= 20,33%

DM rata-rata = 20,28%

 

Angka carrying capacity

Luas lahan 5000 m2 = 0,5 ha

Hasil produksi hijauan segar 4 kg/m2

Diberi setiap hari dari total, sisanya 25% (batang)

Umur Potong Hijauan 39 hari

Luas Kebutuhan Ternak 1 AU (Animal Unit) = 780 lb=355 kg, dengan asumsi kenaikan berat badan 0.7-0.8 kg/hari, yakni membutuhkan:

5.1 kg TDN

0.85 kg PK = 850 g PK

Hasil analisis proksimat rumput gajah

KA 1               = 77,74 %

DW                = 100% – 77,74% = 22,26%

KA 2               = 9,1 %

DM Basis       = 100% – 9,1%= 90,9%

KA Total         = KA1 + (KA2 x DW)  = 79,77%

DM                  = 100%  – 79,77% = 20,23%

Kandungan PK

Analisis kandungan N rumput gajah        = 1,36% (diketahui)

Kandungan PK         = analisis kandungan N x 16% N terkandung

pada protein

=  1,36% x 6,25        = 8,5%

Hasil analisis in vivo PK (DP)        = 60,4% (diketahui)

Untuk TDN                                        = 52% (diketahui pada tabel)

Kadar DP       =          Kandungan PK x Hasil analisis in vivo PK (DP)

=          8,5 x 60,4% = 5,134%

Produksi hijauan DM/m2 = hasil produksi hijauan segar/m2 x DM rumput

=   4 x 6,545% = 0.26%

 

 

 

Kandungan nutrisi dalam produksi hijauan (DM/m2)

DP      = Kadar DP x produksi hijauan DM/m2

= 5,134% x 0,26

= 0.01 kg/m2

TDN      = kadar TDN x produksi hijauan DM/m2

= 52% x 0,26

= 0,135 kg/m2

Dari total produksi yang akan dimakan ternak sebanyak 75% sehingga DP dan TDN yang masuk adalah:

DP= Kandungan Nutrisi dari produksi hijauanX yang diberikan pada ternak

=    0,01 x 75%

=    0,0075 kg/m2

TDN=  Kandungan Nutrisi dari produksi hijauanX yg diberikan pada ternak

=  0,135 x 75%

= 0,101 kg/m2

Kebutuhan Unit Ternak per hari adalah

DP= kebutuhan PK / DP yang masuk

= 0,85 kg / 0.0075 kg/m2

= 113,3 m2

TDN= kebutuhan TDN / TDN yang masuk

= 5,1 kg/ 0,101 kg/m2

                = 50,50 m2

Jumlah petak (karena diberikan ke kandang) maka 39 + 1 = 40

Luas petak mempunyai kandungan DP dan TDN sebanyak :

DP    = Kebutuhan UT per hari x jumlah petak

= 113,3 x 40

= 4532 m2

TDN    = Kebutuhan UT per hari x jumlah petak

= 50,50 x 40

= 2019,8 m2

Luas lahan 5000 m2, maka carrying capacity-nya adalah

DP  = Luas lahan / luas petak yang didapat

= 5000 / 4532

= 1,1

TDN = Luas lahan / luas petak yang didapat

= 5000 / 2019,8

= 2,5

Apabila sapi dengan berat 300 kg/ekor, yang mampu ditampung dalam lahan adalah

DP      = (CC x I UT) / BB

= (1,1 x 355) / 300

= 1,3 (setara dengan 1 ekor sapi)

TDN    = (CC x I UT) / BB

= (2,5 x 355) / 300

= 2,93 (setara dengan 3 ekor sapi)