Categories
Bahasa & Sastra

Memoar Seorang Dokter Perempuan

Dengan memberontak melawan rintangan-rintangan dari keluarga dan masyarakat seorang perempuan muda bangsa Mesir memutuskan untuk studi ilmu kedokteran, dan menjadi satu-satunya perempuan dalam kelas yang seluruhnya terdiri dari kaum lelaki. Keterlibatannya dengan mahasiswa lainnya –demikian pula dengan mayat laki-laki maupun perempuan di ruang autopsi – mengintensifkan pencarian identitas dirinya. Disadarinya bahwa kaum lelaki bukanlah nabi, seperti yang diajarkan ibunya, tetapi juga bahwa ilmu pengetahuan tidak dapat menjelaskan setiap hal, dan bahwa ia tidak dapat dipuaskan dengan hidup dalam suatu kehidupan yang semata-mata mengandalkan pada pemikiran saja.

Setelah perkawinan yang singkat dan tidak bahagia, ia lebih menekuni profesinya, dan menjadi dokter yang sukses dan kaya-raya. Akan tetapi pada saat bersamaan, ia makin menyadari ketidakadilan dan kemunafikan yang hidup dalam masyarakat. ia akhirnya mendapat penyelesaian bukan melalui pengasingan diri, melainkan melalui hubungan dengan orang lain.

Novel ini jelas kian melambungkan reputasi internasional Nawal el-Saadawi sebagai seorang penulis sekaligus pejuang hak-hak wanita di seluruh dunia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *