Negara dan Bandit Demokrasi

Sudah lebih satu dasawarsa demokrasi kita didorong agar tumbuh kembang di Indonesia. Namun, hingga hari ini paham itu tak kunjung tegak. Kesejahteraan dan keadilan yang dijanjikannya pun tak kunjung tiba. Ada apa dengan proses demokratisasi kita?

Proses demokratisasi di republik ini ternyata terus direcoki bandit demokrasi. Ada yang disebut bandit pengembara, ada bandit menetap. Keduanya sama-sama jahat. Merekalah yang merongrong perjuangan dan beragam upaya kita menegakkan ideologi yang memuliakan rakyat itu.

Menggunakan Cina sebagai pembanding, berbagai pertanyaan berusaha dijawab Ignatius Wibowo terkait soal ini. Apa beda antara bandit pengembara atau roving bandits dan bandit menetap aliasstationary bandits? Apa benar mereka biang keladi mandeknya proses demokratisasi kita? Atau, apakah justru demokrasi itu sendiri yang menjadi sumber segala kekacauan yang kini terjadi di Indonesia?

I. Wibowo yang pakar sinologi Universitas Indonesia serta pengamat masalah-masalah global dan demokrasi juga mengajak kita berkaca pada Cina, Negara raksasa yang berhasil membangun perekonomiannya dengan cara-cara yang justru dituduh dunia luar mengesampingkan praksis demokrasi dan penghargaan terhadap hak-hak asasi manusia.